Kebenaran yang tertutupi

KPAI

Komisi Perlindungan Anak Indonesia

021-319 015 56


Komisi Perlindungan Anak Indonesia, disingkat KPAI, adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak. Keputusan Presiden Nomor 36/1990, 77/2003 dan 95/M/2004 merupakan dasar hukum pembentukan lembaga ini


0
0

Ass Wrb ..

Selamat malam, perkenalkan nama saya Rafif Wintama, sekarang sedang berkuliah di jurusan Teknologi Informasi, Universitas Brawijaya, Malang.

saya memiliki beberapa pertanyaan, terkait bullying yang saya pribadi pernah alami sejak di masa-masa sekolah dulu dari tk, sd, smp, sma.

pertanyaan 1

di masa smp dulu, tamparan keras pernah dilakukan oleh seorang guru terhadap saya dan menyebabkan pengalaman traumatis yang tidak pernah dapat dilupakan hingga sekarang seharusnya pada saat itu membela atas tindakan bullying yang terjadi. Apakah sekarang, saya bisa menegakan hak saya atas kejadian yang pernah terjadi ?

pertanyaan 2

Mungkin kalau di tanya. Masa-masa apa yang terburuk di dalam hidup ini adalah masa-masa sekolah yang seharusnya bertumbuh di sana. Tapi, kenyataan bullying yang tidak ada hentinya menciptakan mental block. Guru sma saya sering menekan di saat saya menjauhi lingkungan yang buruk. Mereka menyebarkan berita yang tidak valid. pada saat itu karena bullying sering terjadi saya menjauh tapi guru saya berfikir saya anti social dan lemah. Bukannya menghentikan ketika ejekan itu ada tapi malahan membiarkannya hingga menciptakan lingkungan pembelajaran yang tidak kondusif. Yang paling parahnya lagi, pernah dipermalukan ketika nilai di bawah rata-rata serta menunjukan kekurangan secara terang-terangan. Ditambah lagi pandangan sinis terhadap saya. Mereka hanya tidak sadar hal-hal seperti itu membuat mental dan spikis saya semangkin lemah dan kacau. Saya sempat membalas tetapi mereka melakukan pembelaaan dengan kebohongan dan menyerah saya kembali bukan memperbaiki atas kesalahan yang terjadi. Apakah dari kasus ini, saya memiliki jalan untuk menunjukan segala kebeneran yang tertutupi ? agar tidak ada lagi yang mengalami kejadian yang sama.

 

Terima kasih,

salam hangat dari saya.

 

  • You must to post comments
0
0

Hai Rafif, saya Ardhi, 32 tahun dan saya sepertinya mengalami banyak kesamaan dengan kamu di bagian pertanyaan 2. Tapi coba saya respon dari awal ya:

  1. Pertanyaan 1, kejadian SMP yang ada bully fisik dari guru sebaiknya direspon saat itu juga, hanya saja sekarang kamu sudah kuliah, kejadian sudah lewat beberapa tahun lalu. Coba berdamai dengan diri dan masa lalu itu, misal saat momen pulang kampung saat libur semesteran kuliah/ hari raya (Jika kampung halamanmu tidak di Malang). Ajak teman lama (yang deket dan tidak bully ke kamu, pasti ada lah) ke rumah gurumu itu, sekedar silaturahmi. Ceritakan pengalaman menyenangkan kamu saat kuliah ke gurumu itu. Bila dia tidak menunjukkan rasa bangga terhadap perkembanganmu di dunia kuliah, setidaknya kamu membantu meningkatkan kepercayaan diri sang guru bahwa dia telah mampu membuat anak didiknya dulu yang kini menjadi mahasiswa tangguh.
  2. Pertanyaan 2, memang bullying psikis buat saya pribadi lebih traumatis ketimbang bullying fisik. Saya dulu pernah dipalak preman tapi sebagai anak cowok saat itu malah bangga punya pengalaman seperti itu, namun ketika saya mengalami bullying psikis oleh murid2 berprestasi dan kaya serta stereotype pola pikir guru tentang siswa yg bermasa depan cerah adalah yg nilai akademiknya memukau membuat saya merasa useless sebagai Sumber Daya Manusia. Meski sudah lewat lebih dari separuh usia saya namun traumatis itu masih mudah muncul terutama ketika lelah dengan pekerjaan atau terlalu sering ketemu banyak orang dalam seharian. Untungnya saya terbuka dengan istri saya dan bahkan sebelum menikah, saya rutin konsultasi ke psikolog yang kebetulan juga seorang ahli agama (ustadz) untuk menangani trauma ini, supaya tidak mengganggu komunikasi saya dengan keluarga dan lingkungan. Sebab susah memang utk menghilangkan trauma tersebut, ya sudah kita saja yang berusaha berdamai untuk hidup dengan adanya trauma (yg gampang muncul kalo kepancing). Soal "kebenaran yang tertutupi", iya rasanya emang pengen banget mengungkapnya, tapi semakin berusaha kita semakin capek, sebab kita perlu pahami bahwa manusia adalah mahluk sosial, dulu berseteru, bisa saja di masa depan bersekutu, who knows? Tentang upaya mengungkap "kebenaran yang tertutupi", dalam contoh yang saya lakukan dari dulu hingga saat ini adalah dengan menulis, saya olah imajinasi seolah-olah saya udah ungkap semua kebenaran itu melalui tulisan saya. Kalau kamu suka menulis bisa dicoba melakukan itu, tulisan bisa dalam bentuk fiksi (cerpen/ novel) yang nantinya bisa dinikmati pembaca orang lain sebagai bentuk kreasi seni atau bisa juga dalam bentuk non fiksi seperti jurnal maupun esai dan kamu tambahi teori2 dari para ahli sehingga kamu malah punya karya ilmiah.

Cara saya sekarang untuk melakukan manajemen terhadap masa lalu supaya ketika muncul tidak membuat swing mood yang parah adalah dengan: olah raga, meditasi, sharing dengan orang terdekat ttg hal apapun, berdoa dan kulineran, hahaha

  • You must to post comments
Showing 1 result
Your Answer
Post as a guest by filling out the fields below or if you already have an account.
Name*
E-mail*
Website